Pokok-pokok Ajaran Protestan
Suatu hari, ketika saya akan melayankan acara penguburan bagi warga jemaat HKI yang meninggal dunia, saya dikejutkan oleh panggilan dari protokol acara tersebut. Setelah acara adat kematian selesai dilaksanakan, dengan lantang protokol acara tersebut menyuarakan lewat pengeras suara:”Ala naung simpul ulaon adat, pinasahat ma tingki tu amamg Pandita nami laho mangaleho sakaramen di natuatua on” (Indonesia: Selanjutnya kami persilahkan untuk pak pendeta untuk melayankan sakramen). Mendengar hal tersebut saya terkejut, namun masih berusaha memaklumi, bahwa mungkin dia adalah seorang jemaat awam atau bisa jadi penganut Katolik. Tapi, setelah saya tanya kepada penatua yang menemani saya, dia katakan bahwa orang yang mengucapkan hal tersebut tersebut berasal dari kalangan Protestan dan, hal yang paling mengejutkan saya, seorang sintua pula! Bagaimana mungkin, seorang Protestan yang sekaligus sintua di gereja Protestan, bisa menyatakan hal yang demikian?
Sebenarnya bukan sekali itu saja saya pernah mendengar pernyataan seperti itu keluar dari seorang Protestan. Tidak hanya dalam acara penguburan, bahkan dalam sebuah sermon, ucapan tersebut pernah saya dengar. Ada sebuah pemahaman bahwa acara penguburan bagi warga jemaat yang meninggal adalah sebuah sakramen. Ini menjadi sebuah keprihatinan bagi saya, betapa masih banyak warga jemaat, bahkan penatua, yang tidak memahami pokok-pokok ajaran Martin Luther, Bapa Reformasi Gereja, tentang sakramen. Masih ada warga jemaat Protestan yang tidak mengetahui bahwa ada perbedaan pemahaman antara Protestan dengan Katolik, tentang apa itu sakramen dan ada berapa jenis sakramen yang diakui oleh gereja Protestan.
Inilah yang menjadi dasar penulisan artikel kecil ini, ingin menolong warga jemaat dan para penatua dari kalangan Protestan untuk lebih memahami apa itu sakramen, apa saja yang menjadi sakramen di gereja protestan.
Apa itu Sakramen?
Kata Sakramen berasal dari kata Latin, sacramentum, yang sudah diadopsi ke dalam bahasa teologia oleh Tertullianus (Bapa Gereja yang hidup sekitar tahun 200). Kata sacramentum dapat diterjemahkan dengan “perbuatan kudus” atau “upacara suci”. Jadi sakaramen menurut arti katanya adalah perbuatan suci atau upacara suci. Menurut pengertian Kristen, sakramen berarti perbuatan suci atau upacara suci yang ditetapkan Tuhan Yesus sendiri tatkala ia masih berada di dunia ini.
Gereja Katolik Roma mengenal 7 (tujuh) sakramen. (1) Permandian, yang olehnya – menurut ajaran Katolik Roma – dihilangkan dosa asal; (2) Penguatan, yang diberikan kepada anak-anak setelah berumur kira-kira 12 tahun, untuk menguatkan mereka dalam perjuangan iman yang akan datang; (3) Ekaristi, berasal dari istilah Yunani “Eucharistia”, artinya ucapan syukur; (4) Pengakuan, yaitu pengakuan dosa-dosa yang dilakukan setelah Permandian dan yang diampuni dengan perantaraan kuasa imam; (5) Perminyakan, yang memberi kepada orang sakit kekuatan untuk mati secara kristen; (6) Imamat (=keimaman, pentahbisan menjadi imam) yang olehnya diberi kekuasaan untuk melanjutkan keimaman Kristus; dan (7) Perkawinan, yang menurut ajaran katolik Roma ditetapkan oleh Allah dalam taman Firdaus dan oleh Yesus diangkat menjadi sakramen.
Di dalam gereja Protestan, yang berpedoman kepada ajaran para reformator (Marthin Luther, dkk.), hanya ada dua sakramen, yaitu : Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Sebab menurut Alkitab, hanya kedua sakaramen itulah yang secara langsung ditetapkan Tuhan Yesus. Dengan kedua sakramen ini, dikatakan, bahwa Tuhan Yesus hendak memeteraikan (menetapkan ; mensyahkan) janji-Nya, yaitu bahwa Ia menganugerahkan kepada kita keampunan dosa dan kehidupan kekal berkat pengorbanan dan kematian-Nya (Roma 4:11). Sakramen diadakan bukan hanya sebagai tanda-tanda yang dengannya orang dapat dikenal secara lahiriah sebagai orang Kristen, melainkan agar sakramen-sakramen menjadi tanda-tanda dan kesaksian-kesaksian akan kehendak Allah atas kita untuk membangkitkan dan meneguhkan iman kita. Jadi sakramen itu ditetapkan agar iman kita diarahkan kepada pengorbanan Kristus sebagai satu-satunya dasar dan jaminan keselamatan kita. Roh Kuduslah yang menanamkan arti sakramen itu ke dalam hati kita (Roma 6:3) dan kita patut menerima sakramen itu dengan sukacita dan rasa syukur.
Baptisan Kudus
Baptisan Kudus menjadi tanda dan meterai yang mencap orang beriman dan anak-anaknya selaku jemaat yang dikuduskan untuk menjadi milik Kristus secara khusus (1 Kor. 7:14). Lewat Baptisan kita telah diterima menjadi anak-anakNya dan warga kerajaan-Nya, setelah Ia terlebih dahulu menyucikan kita dari segala dosa, termasuk dosa yang kita warisi dari Adam, manusia pertama yang jatuh ke dalam dosa.
Dalam Matius 28:19, Tuhan Yesus memerintahkan agar murid-muridNya “...jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka di dalan nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,...” Perintah agung inilah yang menjadi salah satu pedoman utama gereja untuk menyelenggarakan baptisan. Juga dalam pasal terakhir Injil Markus (16:16) dikatakan:”Siapa yang percaya akan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”
Di dalam gereja kita, yang dibaptis adalah anak kecil sesuai dengan fungsi baptisan sebagai tanda pengesahan. Marthin Luther sendiri menegaskan bahwa Anak-anak dibaptis karena perintah Allah.
Begitu pula yang kita lakukan bila kita membaptis anak-anak. Kita membawa anak itu dan menganggap serta berharap bahwa ia percaya. Kita meminta agar allah memberi iman kepadanya. Namun, kita membaptisnya bukan karena imannya, melainkan hanya karena Allah telah menyuruh kita membaptis. (Buku Konkord, Konfesi Gereja Lutheran)
Baptisan diwujudkan dengan air (ada yang memercikkan, ada juga yang menyelamkan). Air menjadi simbol pembersihan kita, bahwa Adam lama kita bersama dengan dosa-dosa dan keinginan jahat dihanyutkan oleh penyesalan dan pertobatan kita. Yang terpenting adalah bukan airnya atau caranya, melainkan maknanya, yakni bahwa seseorang telah disyahkan menjadi warga Kerajaan Allah di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak (Tuhan Yesus) dan Roh Kudus.
Perjamuan Kudus
Ketika Tuhan Yesus merayakan Perjamuan Paskah untuk terakhir kalinya, Ia mengambil roti, memecahkannya dan memberikannya kepada murid-muridNya sambil berkata:”Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (I Kor. 11:24). Pada akhir pertemuan, ketika diedarkanNya cawan berisi air anggur, Ia berkata:”Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya menjadi peringatan akan Aku!” (I Kor. 11:25).
Berdasarkan perkataan-perkataan inilah maka beberapa kali dalam setahun jemaat Protestan mengadakan kebaktian khusus untuk merayakan Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus adalah Perjamuan yang tergolong kepada Perjanjian yang diadakan Allah dengan umatNya di bukit Golgota (Perjanjian yang Baru), dimana anak domba Paskah telah dikorbankan satu kali untuk selama-lamanya (I Kor. 5:17). Bila pada perayaan Perjamuan Kudus kita menerima roti dan anggur, maka dengan “Firman yang kelihatan” ini ditegaskan dan diberi jaminan kepada kita bahwa kita boleh ambil bagian dalam keselamatan yang dikerjakan Kristus bagi manusia. Sebab, dengan menerima tanda-tanda roti dan anggur itu kita dijadikan satu dengan Kristus di dalam kematianNya. Perjamuan Kudus adalah tanda yang ditetapkan Tuhan untuk mengingatkan semua orang yang percaya kepadaNya kepada sengsara dan pengorbananNya untuk menebus dosa kita dan menyediakan kehidupan kekal bagi kita. Dengan menerima tanda itu kita boleh yakin bahwa sekarang pun kita telah menerima keselamatan itu, dan itu sepenuhnya akan kita nikmati ketika kita bersama dengan Dia merayakan Perjamuan Agung bersama Dia di kerajaanNya yang kekal, setelah Ia datang kembali membarui dunia ini.
Ada dua tanda yang digunakan dalam penetapan Perjamuan, yaitu roti dan anggur. Roti melambangkan tubuh Kristus dan anggur melambangkan darahNya; kedua-duanya telah dikorbankan di atas kayu salib. Marthin Luther menegaskan bahwa tubuh dan darah Kristus ada ‘”dalam” dan “dibawah” unsur roti dan anggur. Tidak ada perubahan dalam substansi unsur-unsur itu, tetapi pada waktu menerimanya jemaat sesungguhnya menerima tubuh Kristus yang sudah dimuliakan dan memang ada dimana-mana. Dengan demikian, kristus benar-benar hadir dalam Perjamuan, dilokalisasi dalam unsur-unsur roti dan anggur yang tidak berubah sifatnya.
Tujuan dari Perjamuan Kudus, oleh Marthin Luther disebutkan, adalah: (1) untuk memperoleh ‘harta’ yang di dalam dan melaluinya kita menerima pengampunan dosa. Karena itulah yang dikatakan dan diberikan Kristus kepada kita, supaya semua ini dapat menjadi milik kita dan bermanfaat bagi kita sebagai suatu jaminan dan tanda yang pasti. Marthin Luther sendiri menegaskan:”Sesungguhnya, itulah pemberian yang Ia berikan kepada ku dalam perjuangan melawan dosa-dosa ku, maut dan segala kemenangan.” (2) untuk memelihara dan menguatkan manusia baru. Melalui baptisan kita telah dilahirkan menjadi manusia baru. Namun, kulit kita yang lama tetap beserta kita, sama seperti darah dan daging. Ada begitu banyak rintangan dan serangan dari iblis dan dunia, sehingga kita sering menjadi letih dan lesu, bahkan kadang-kadang tersandung. Perjamuan Kudus diberikan kepada kita sebagai makanan dan penyegaran sehari-hari sehingga iman kita dapat bertumbuh lagi dan memperbaharui kekuatannya, tidak jatuh lagi dalam pergumulan, melainkan semakin teguh.
Siapakah yang dapat mengikuti sakramen ini? Penting untuk kita pahami bahwa sakramen ini diberikan bukan karena kita layak menerimanya. Kita menerima sakramen ini bukan sebagai orang yang seolah-olah sudah murni dan tak berdosa, melainkan sebagai sebagai orang yang hina dan malang, yang menginginkan rahmat dan penghiburan Allah. Karena itu, sakramen-sakramen itu harus disertai iman, dan sakramen-sakramen itu dipergunakan dengan benar apabila diterima dengan iman dan untuk meneguhkan iman. Ini adalah janji kristus kepada kita, dan sungguh suatu dosa dan aib bila kita bersikap menolak dan menunda-nundanya sampai hati kita menjadi dingin dan keras dan tidak lagi merindukan Perjamuan Kudus.
Jadi, saya harap tidak ada lagi salah paham tentang Sakramen di dalam kita, kaum Protestan. Tidak akan ada lagi orang protestan yang mengatakan agar orang mati “disakrameni”, karena itu bukanlah sebuah sakramen!
Pdt. Riston Eirene Sihotang, S.Si. (Teologi)
"...dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Senin, 25 Oktober 2010
Kamis, 21 Oktober 2010
Hatorangan Jamita 2
Hatorangan tu Jamita Minggu, 24 Oktober 2010
Ev. 2 Timotius 3:1-7 Ep. Mateus 24:4-13 S. Patik. I Petrus 3:11
Patujolo
Globalisasi i ma sada proses mengglobal/mendunia. Proses on didorong oleh kemajuan di bidang teknologi komunikasi dohot transportasi, mambahen jarak ndang gabe sada persoalan be di hita. Aha na masa di luat na dao, dohot hatop bo i sahat tu hita marhite televisi dohot internet. Isarana: serangan teroris tu menara WTO di Amerika nadigoari serangan 11 September 2001, dalam hitungan menit nunga sahat tu sude halak di portibi on. Barita sian keluarganta na tinggal dao sian hita, dohot hatop boi sahat tu hita. Nihilalaon ndang adong be batas antara hita na adong di Indonesia dohot halak na di negara asing. Ndang gabe sada hambatan be jarak ribuan kilometer di hita. Dohot do muse hita sude nunga dohot dibagasan kemajuan i, contoh kecil lewat penggunaan HP. Akses informasi na tarbuka manang tu ise pe, mambuka peluang na lam balga di kemajuan ekonomi na masa.
Alai, songon uang logam na memiliki dua sisi, songoni do globalisasi. Selain mamboan hal na positif, dohot hal-hal negatif berkembang dibagasanna. Akses informasi na bebas mambahen ragam budaya, ideologi, haporseaon na adong di portibi on sai mura masuk tu Indonesia. Budaya asli naung adong i, lambat laun lam mago, digantihon oleh budaya global. Perdagangan bebas mambaen negara-negara semakin bersaing. Lam hapal roha diri, ai holan tu kepentinganna sambing nama disarihon. Kemajuan teknologi dohot do mendorong pola hidup na konsumtif, gabe tu konsumerisme. Laho mencukupi pola na komsumtif i, hepeng nang pe hinilang (didapat secara tidak halal) ingkon di dapot. Jolma lam bersifat individualis, lapatanna: holan mangharinghothon di dirina jala ndang parduli be tu halak.
Situasi ni Surat
2 Timotius merupakan surat na paduahon sian Paulus tu si Timotius, na ditaruhon sahalak na margoar Thikikus (4:12). Sian bagasan penjara di huta Rom, tung mansai malungun do rohana di naung marlaoan angka donganna, tinggal si Lukas na rap dohot ibana. Di tamba muse pangarupaon (perlakuan sewenang-wenang) na dijalo ibana dibagasan penjara. Dirante do ibana (1:16), jala songon siula hajahaton do ibana dibahen (2:9). Ndang ditontuhon do pe uhum tu ibana, alai ninna roha ni si Paulus hukuman mate do na nanaeng dipamasa tu ibana (4:6). Di situasi i do, di ujung ni ngoluna, malungun situtu rohana boi rap pajumpang dohot si Timoteus, “anakkonku na hinaholongan” (1:2). Rap dohot i, tongtong dipasahat ibana angka poda tu si Timoteus asa tongtong balang (setia) dibagasan panghobasionna tu Debata di tonga-tongan ni ruas ni Huria Efesus. Di boto si Paulus ragam ni hamaolon siadopanni Timoteus di tonga-tonga ni huria Efesus. Ndang holan sian angka parpodahaliluon, dohot do parngoluan ni jolma na gok hajahaton manosak huria i. Ditonga-tongani hajahaton i, di sosoi si Paulus asa marsihohot manghaposi Tuhan i. Molo pos rohana di Tuhan i, margogo ma si Timoteus mangadopi hajahaton i. Ala dibagasan habajaron do ibana, ndang adong do pe pengalaman, i do umbaen di papos si Paulus rohana unang gale mangadopi parungkilon i.
Tafsiran Teks
Paulus naeng patoranghon tu si Timoteus ia keberadaan ni angka parpoda haliluon di tingki i merupakan bagian sian situasi di tingki na parpudi. Na ro ma angka ari hasusaan mulai sian angka bencana na masa, kondisi moral ni jolma na lam tahis (merosot), jala panggosaon tu halak Kristen (Mat.24:9-12;Mrk.13:7-13). Kemerosotan moral naung dibereng si Paulus di goari ibana di son, i ma: 3:2 Ai mangkaholongi dirina ma jolma disi, impolan di perak, parhata manggang, parroha haginjangon, angka panginsahi, na so mangoloi natorasna, na so marningot lagu, angka na tois;
3:3 angka na so marroha holong, pangoseose, panihasnihasi, na so umboto mangorom, parmurukmuruk, na so marholong ni roha di na denggan; 3:4 angka parjehe, parroha na neang, sipaburnang diri, holongan di hisap ni daging asa di Debata.
Dasar sian angka dosa na digoari Paulus di ayat 2-4, i ma mangkaholongi dirina. Halak na manghaholongi dirina tongtong holan na menonjolkan kepentingan dirina sandiri, dionjar sikap egois na so olo manarihon halak na asing, na boi gabe sumber haroroan ragam dosa na mangihut. Na paduahon, impolan di perak. Patuduhon sikap hidup na materialistis. Di I Tim 6:10, nunga dipaingot si Pulus ia “urat ni nasa hajahaton do roha na holongan di hepeng; i do disangkapi na deba, umbahen na lilu sian haporseaon i, gabe diaithon do godang na bernit tu dirina”. Alani hepeng dohot hamoraon, gabe olo do halak mangulahon na jahat. Ragam ni angka dosa i na dipajojor Apostel i, dirisihon (disimpulkan) ia jolma on nunga “holongan di hisap ni daging asa di Debata” (3:4). Ndang di haholongi be Debata, ai holan na mangalului hasonangan di dirina , jala di si do ibana mangulahon angka hal na so denggan laho dapotan i saluhutna.
Halak Kristen di tingki i, hape nunga bongot tu pangalaho naung digoari i. Sikap na mangholongi diri dohot na impolan di perak (ayat 2) dohot na holongan di hisap ni daging (ayat 4), marpanghorhon tu cara ni nasida mangalapati haporseaonna tu Jesus Kristus. Tongtong do nasida marpungu, mangulahon hadaulaton (ibadah) tu Debata. Nang pe songoni, jotjot do hadaulaton (peribadahan) tu Debata i holan formalitas, alai hagogoonna i ndang dapot di nasida (ayat 5). Padahal, Paulus nunga mangajarhon tu nasida ia hadaulaton i ndang holan hata, alai marhagogoon do i laho paubahon, paimbaruon jala paluahon ngolu ni jolma. Asa “Pasiding ma angka sisongon i!” ninna Paulus tu si Timoteus. Sadalan do i dohot himbauan ni psalmen “Martua ma halak, na so olo mangihuthon tahi ni angka parjahat, jala na so olo jongjong tu dalan ni angka pardosa, jala na so olo sahundulan dohot angka pangarehei” (Psalm. 1:1). Dibagasan habajaronna, asa unang terpengaruh ibana di pangalaho ni angka parpoda haliluon i. Tiruan na denggan menghasilkan halak na marpangalaho na denggan. Sebalikna, tiruan na so denggan menghasilkan halak na marpangalaho na so denggan. Idaon songon na daulat nasida, ala dipangke hata ni Debata, hape na papuashon hagiot ni dagingna do, na mangeraera angka ina namabalu do. Besar kemungkinan angka ina na mabalu i angka namora. Tujuan ni nasida gabe jelas, i ma keuntungan finansial. Dipangke hatani Tuhan i, ndada na mamaritahon Debata alai na papuashon hagiot ni dagingna do.
Pokok-pokok Sijamitahonon
1) Hamajuon na masa di tingki na parpudi on merupakan pasu-pasu ni Debata tu hita jolma, marhite hapistaran dohot bisuk na nilehonNa. Psalmen sandiri mandok di Psalm. 119:66:”Sai podahon ma tu ahu roha hapantason dohot parbinotoan na denggan, ai huhaporseai do angka tonami”. Debata mangalehon i tu hita asa boi hita mangggohi sandok tano on, jala mangarajai tano on (1 Musa 1:28). Alai, jotjot do salah pangantusionta di hamajuon i. Sahalak na pistar hea mandok songon on:”Ketika pengetahuan manusia semakin maju, maka semakin besar kecenderungan untuk melupakan Tuhan!” Dung lam maju jolma i, timbo parbinotoanna, gabe lupa do tu Debata. Dianggap do dirina sandiri na patupahon, malua sian pangaramotion ni Debata. Gabe lomona sambing diihuthon, lupa mangulahon lomo ni roha ni Debata marhite parbinotoan na i. Hamajuon na masa gabe lam pahapalhon roha diri, ai kepentinganna sambing nama disarihon. Kemajuan teknologi dohot do mendorong pola hidup konsumerisme. Laho mencukupi pola na komsumtif i, hepeng nang pe hinilang (didapat secara tidak halal) ingkon di dapot, manegai lingkungan pe diula, dohot manegai parsaoran ditongatonga ni keluarga, huria dohot masyarakat.
2) Na masa songon na dihatahon Apostel Paulus, nunga godang taida masa di tingki na parpudi on. Di tingki na parpudi on, ragam hasusaon na masa di humaliangta. Margontigonti do bencana alam na ro, mulai sian banjir, gempa bumi, dohot gunung meletus. Dohot muse margontigonti persoalan politik, sosial-budaya, ekonomi, d.u., na jotjot patubuhon parbadaan di tongatonganta. Mamereng situasi on, nunga godang halak mandok:”On ma huroa ujung ni hasiangan on”. Bahkan nunga godang dibahen angka na pistar film taringot tu ujung ni hasiangan on. Isarana: 2012. Toho do i? Boha do hita menanggapi on? Tontu sebagai halak Kristen hita, alusta ingkon marojahan sian hata ni Tuhanta marhite Apostel Paulus:”Alai ndang pola suraton tu hamu, ale angka dongan, taringot tu tingkina dohot sadiharina. Ai diboto hamu do tangkas, na songon panangko borngin do haroro ni ari ni Tuhan i” (I Tes. 5:1-2; Mat. 24:43; Luk.12:39; 2 Pet. 3:10). Jadi, dia do sibahenonta? Tapasiding ma dirinta sian angka na sisaongoni. Taulahon ma hadaulaton nasintong, ndang hadaulaton na formalitas sambing. Bahkan nunga godang ruas ni huria na menganggap ndang ringkot be ro tu bagas joro ni Debata, ai ndang dihaposi be gogo ni Debata marhite hadaulaton i. Ingkon tahaposi, ia dibagasan hadaulaton i do Debata mangalehon gogo naimbaru di hita laho pasidinghon dirinta sian angka na humurang di era globalisasi on. Naeng marposniroha hita songon Apstel i:”Apala on ma pos ni rohangku: Naung umpungka ulaon na denggan di bagasan hamu, patuluson ni I do i, sahat ro di ari ni Kristus Jesus” (Fil. 1:6).
3) Di tingki na parpudi on nunga lam torop angka parjamita na pararathon barita nauli ditongatonganta. Naeng ma hita manat di si, jaga dirinta asa unang terpengaruh di angka parpoda haliluon. Songon na ni dok ni Jesus di Lukas 21:8: “Alai ninna Ibana ma: Jaga ma hamu, so tung lilu hamu! Ai lan do na ro sogot manoluk Goarhu, angka na mandok: Ahu do! Nunga dapot tingkina i! Unang ma ihuthon hamu nasida!” Laho mananda dia do angka parpoda haliluon i, nunga dilehon di hita di I Johanes 4:2-3:”Sian on ma tanda hamu Tondi ni Debata: Ganup tondi ma marhatopothon Jesus Kristus, naung ro di bagasan daging, i ma sian Debata. Ganup tondi na so marhatopothon Jesus i, i ma na so sian Debata. I ma pangalaho ni Antikristus, na naeng ro i, songon naung binegemuna; jala nunga di portibi on ibana nuaeng.
Pasiding ma angka sisongon i!
1. Parhaseanghon ma hamajuon i asa lam gabeak ngolunta
2. Haposi ma Debata marhite hadaulatonmi.
3. Jaga ma dirinta sian angka parpoda haliluon.
Ende.
1. 20:1-3
2. 164:1-2
3. 210:2-3
4. 258:1-2
5. 215:1---
6. 238:3-4
7. 228:1---
Ev. 2 Timotius 3:1-7 Ep. Mateus 24:4-13 S. Patik. I Petrus 3:11
Patujolo
Globalisasi i ma sada proses mengglobal/mendunia. Proses on didorong oleh kemajuan di bidang teknologi komunikasi dohot transportasi, mambahen jarak ndang gabe sada persoalan be di hita. Aha na masa di luat na dao, dohot hatop bo i sahat tu hita marhite televisi dohot internet. Isarana: serangan teroris tu menara WTO di Amerika nadigoari serangan 11 September 2001, dalam hitungan menit nunga sahat tu sude halak di portibi on. Barita sian keluarganta na tinggal dao sian hita, dohot hatop boi sahat tu hita. Nihilalaon ndang adong be batas antara hita na adong di Indonesia dohot halak na di negara asing. Ndang gabe sada hambatan be jarak ribuan kilometer di hita. Dohot do muse hita sude nunga dohot dibagasan kemajuan i, contoh kecil lewat penggunaan HP. Akses informasi na tarbuka manang tu ise pe, mambuka peluang na lam balga di kemajuan ekonomi na masa.
Alai, songon uang logam na memiliki dua sisi, songoni do globalisasi. Selain mamboan hal na positif, dohot hal-hal negatif berkembang dibagasanna. Akses informasi na bebas mambahen ragam budaya, ideologi, haporseaon na adong di portibi on sai mura masuk tu Indonesia. Budaya asli naung adong i, lambat laun lam mago, digantihon oleh budaya global. Perdagangan bebas mambaen negara-negara semakin bersaing. Lam hapal roha diri, ai holan tu kepentinganna sambing nama disarihon. Kemajuan teknologi dohot do mendorong pola hidup na konsumtif, gabe tu konsumerisme. Laho mencukupi pola na komsumtif i, hepeng nang pe hinilang (didapat secara tidak halal) ingkon di dapot. Jolma lam bersifat individualis, lapatanna: holan mangharinghothon di dirina jala ndang parduli be tu halak.
Situasi ni Surat
2 Timotius merupakan surat na paduahon sian Paulus tu si Timotius, na ditaruhon sahalak na margoar Thikikus (4:12). Sian bagasan penjara di huta Rom, tung mansai malungun do rohana di naung marlaoan angka donganna, tinggal si Lukas na rap dohot ibana. Di tamba muse pangarupaon (perlakuan sewenang-wenang) na dijalo ibana dibagasan penjara. Dirante do ibana (1:16), jala songon siula hajahaton do ibana dibahen (2:9). Ndang ditontuhon do pe uhum tu ibana, alai ninna roha ni si Paulus hukuman mate do na nanaeng dipamasa tu ibana (4:6). Di situasi i do, di ujung ni ngoluna, malungun situtu rohana boi rap pajumpang dohot si Timoteus, “anakkonku na hinaholongan” (1:2). Rap dohot i, tongtong dipasahat ibana angka poda tu si Timoteus asa tongtong balang (setia) dibagasan panghobasionna tu Debata di tonga-tongan ni ruas ni Huria Efesus. Di boto si Paulus ragam ni hamaolon siadopanni Timoteus di tonga-tonga ni huria Efesus. Ndang holan sian angka parpodahaliluon, dohot do parngoluan ni jolma na gok hajahaton manosak huria i. Ditonga-tongani hajahaton i, di sosoi si Paulus asa marsihohot manghaposi Tuhan i. Molo pos rohana di Tuhan i, margogo ma si Timoteus mangadopi hajahaton i. Ala dibagasan habajaron do ibana, ndang adong do pe pengalaman, i do umbaen di papos si Paulus rohana unang gale mangadopi parungkilon i.
Tafsiran Teks
Paulus naeng patoranghon tu si Timoteus ia keberadaan ni angka parpoda haliluon di tingki i merupakan bagian sian situasi di tingki na parpudi. Na ro ma angka ari hasusaan mulai sian angka bencana na masa, kondisi moral ni jolma na lam tahis (merosot), jala panggosaon tu halak Kristen (Mat.24:9-12;Mrk.13:7-13). Kemerosotan moral naung dibereng si Paulus di goari ibana di son, i ma: 3:2 Ai mangkaholongi dirina ma jolma disi, impolan di perak, parhata manggang, parroha haginjangon, angka panginsahi, na so mangoloi natorasna, na so marningot lagu, angka na tois;
3:3 angka na so marroha holong, pangoseose, panihasnihasi, na so umboto mangorom, parmurukmuruk, na so marholong ni roha di na denggan; 3:4 angka parjehe, parroha na neang, sipaburnang diri, holongan di hisap ni daging asa di Debata.
Dasar sian angka dosa na digoari Paulus di ayat 2-4, i ma mangkaholongi dirina. Halak na manghaholongi dirina tongtong holan na menonjolkan kepentingan dirina sandiri, dionjar sikap egois na so olo manarihon halak na asing, na boi gabe sumber haroroan ragam dosa na mangihut. Na paduahon, impolan di perak. Patuduhon sikap hidup na materialistis. Di I Tim 6:10, nunga dipaingot si Pulus ia “urat ni nasa hajahaton do roha na holongan di hepeng; i do disangkapi na deba, umbahen na lilu sian haporseaon i, gabe diaithon do godang na bernit tu dirina”. Alani hepeng dohot hamoraon, gabe olo do halak mangulahon na jahat. Ragam ni angka dosa i na dipajojor Apostel i, dirisihon (disimpulkan) ia jolma on nunga “holongan di hisap ni daging asa di Debata” (3:4). Ndang di haholongi be Debata, ai holan na mangalului hasonangan di dirina , jala di si do ibana mangulahon angka hal na so denggan laho dapotan i saluhutna.
Halak Kristen di tingki i, hape nunga bongot tu pangalaho naung digoari i. Sikap na mangholongi diri dohot na impolan di perak (ayat 2) dohot na holongan di hisap ni daging (ayat 4), marpanghorhon tu cara ni nasida mangalapati haporseaonna tu Jesus Kristus. Tongtong do nasida marpungu, mangulahon hadaulaton (ibadah) tu Debata. Nang pe songoni, jotjot do hadaulaton (peribadahan) tu Debata i holan formalitas, alai hagogoonna i ndang dapot di nasida (ayat 5). Padahal, Paulus nunga mangajarhon tu nasida ia hadaulaton i ndang holan hata, alai marhagogoon do i laho paubahon, paimbaruon jala paluahon ngolu ni jolma. Asa “Pasiding ma angka sisongon i!” ninna Paulus tu si Timoteus. Sadalan do i dohot himbauan ni psalmen “Martua ma halak, na so olo mangihuthon tahi ni angka parjahat, jala na so olo jongjong tu dalan ni angka pardosa, jala na so olo sahundulan dohot angka pangarehei” (Psalm. 1:1). Dibagasan habajaronna, asa unang terpengaruh ibana di pangalaho ni angka parpoda haliluon i. Tiruan na denggan menghasilkan halak na marpangalaho na denggan. Sebalikna, tiruan na so denggan menghasilkan halak na marpangalaho na so denggan. Idaon songon na daulat nasida, ala dipangke hata ni Debata, hape na papuashon hagiot ni dagingna do, na mangeraera angka ina namabalu do. Besar kemungkinan angka ina na mabalu i angka namora. Tujuan ni nasida gabe jelas, i ma keuntungan finansial. Dipangke hatani Tuhan i, ndada na mamaritahon Debata alai na papuashon hagiot ni dagingna do.
Pokok-pokok Sijamitahonon
1) Hamajuon na masa di tingki na parpudi on merupakan pasu-pasu ni Debata tu hita jolma, marhite hapistaran dohot bisuk na nilehonNa. Psalmen sandiri mandok di Psalm. 119:66:”Sai podahon ma tu ahu roha hapantason dohot parbinotoan na denggan, ai huhaporseai do angka tonami”. Debata mangalehon i tu hita asa boi hita mangggohi sandok tano on, jala mangarajai tano on (1 Musa 1:28). Alai, jotjot do salah pangantusionta di hamajuon i. Sahalak na pistar hea mandok songon on:”Ketika pengetahuan manusia semakin maju, maka semakin besar kecenderungan untuk melupakan Tuhan!” Dung lam maju jolma i, timbo parbinotoanna, gabe lupa do tu Debata. Dianggap do dirina sandiri na patupahon, malua sian pangaramotion ni Debata. Gabe lomona sambing diihuthon, lupa mangulahon lomo ni roha ni Debata marhite parbinotoan na i. Hamajuon na masa gabe lam pahapalhon roha diri, ai kepentinganna sambing nama disarihon. Kemajuan teknologi dohot do mendorong pola hidup konsumerisme. Laho mencukupi pola na komsumtif i, hepeng nang pe hinilang (didapat secara tidak halal) ingkon di dapot, manegai lingkungan pe diula, dohot manegai parsaoran ditongatonga ni keluarga, huria dohot masyarakat.
2) Na masa songon na dihatahon Apostel Paulus, nunga godang taida masa di tingki na parpudi on. Di tingki na parpudi on, ragam hasusaon na masa di humaliangta. Margontigonti do bencana alam na ro, mulai sian banjir, gempa bumi, dohot gunung meletus. Dohot muse margontigonti persoalan politik, sosial-budaya, ekonomi, d.u., na jotjot patubuhon parbadaan di tongatonganta. Mamereng situasi on, nunga godang halak mandok:”On ma huroa ujung ni hasiangan on”. Bahkan nunga godang dibahen angka na pistar film taringot tu ujung ni hasiangan on. Isarana: 2012. Toho do i? Boha do hita menanggapi on? Tontu sebagai halak Kristen hita, alusta ingkon marojahan sian hata ni Tuhanta marhite Apostel Paulus:”Alai ndang pola suraton tu hamu, ale angka dongan, taringot tu tingkina dohot sadiharina. Ai diboto hamu do tangkas, na songon panangko borngin do haroro ni ari ni Tuhan i” (I Tes. 5:1-2; Mat. 24:43; Luk.12:39; 2 Pet. 3:10). Jadi, dia do sibahenonta? Tapasiding ma dirinta sian angka na sisaongoni. Taulahon ma hadaulaton nasintong, ndang hadaulaton na formalitas sambing. Bahkan nunga godang ruas ni huria na menganggap ndang ringkot be ro tu bagas joro ni Debata, ai ndang dihaposi be gogo ni Debata marhite hadaulaton i. Ingkon tahaposi, ia dibagasan hadaulaton i do Debata mangalehon gogo naimbaru di hita laho pasidinghon dirinta sian angka na humurang di era globalisasi on. Naeng marposniroha hita songon Apstel i:”Apala on ma pos ni rohangku: Naung umpungka ulaon na denggan di bagasan hamu, patuluson ni I do i, sahat ro di ari ni Kristus Jesus” (Fil. 1:6).
3) Di tingki na parpudi on nunga lam torop angka parjamita na pararathon barita nauli ditongatonganta. Naeng ma hita manat di si, jaga dirinta asa unang terpengaruh di angka parpoda haliluon. Songon na ni dok ni Jesus di Lukas 21:8: “Alai ninna Ibana ma: Jaga ma hamu, so tung lilu hamu! Ai lan do na ro sogot manoluk Goarhu, angka na mandok: Ahu do! Nunga dapot tingkina i! Unang ma ihuthon hamu nasida!” Laho mananda dia do angka parpoda haliluon i, nunga dilehon di hita di I Johanes 4:2-3:”Sian on ma tanda hamu Tondi ni Debata: Ganup tondi ma marhatopothon Jesus Kristus, naung ro di bagasan daging, i ma sian Debata. Ganup tondi na so marhatopothon Jesus i, i ma na so sian Debata. I ma pangalaho ni Antikristus, na naeng ro i, songon naung binegemuna; jala nunga di portibi on ibana nuaeng.
Pasiding ma angka sisongon i!
1. Parhaseanghon ma hamajuon i asa lam gabeak ngolunta
2. Haposi ma Debata marhite hadaulatonmi.
3. Jaga ma dirinta sian angka parpoda haliluon.
Ende.
1. 20:1-3
2. 164:1-2
3. 210:2-3
4. 258:1-2
5. 215:1---
6. 238:3-4
7. 228:1---
Hatorangan Jamita
Hatorangan tu Jamita Minggu, 17 Oktober 2010
Ev. Filipi 3:17-21 Ep. I Raja-raja 2:1-4 S. Patik. Titus 2:7
Patujolo
Ibarat harotas bontar na kosong, na so adong do pe disurati manang gambar dibagasan na, songoni do boi tapatudos keadaan ni sahalak jolma na baru tubu di hasiangan on. Ndang adong diboto agia aha, tarlumobi ndang diboto membedakan na dengan dohot na so denggan. Na boi sibahenonna i ma meniru dohot mencontoh sude na diida jala dibereng sian angka na magodang (orang dewasa). Sude na dibahen angka orang dewasa, denggan manang so denggan, merupakan contoh tu ibana. Dianggap do i sebagai standar perilaku di ibana. Molo dibege omakna jotjot sai mamburai, maka dakdanak i pe gabe marsiajar mamburai. Molo dibereng ibana jotjot bapana mangurupi halak, maka anak akan suka menolong. Molo dibereng ibana abangna jotjot mangalo omak dohot bapana, maka ibana pe mangihut gabe pangalo. I do makana sai dipaingot hita angka halak dewasa asa unang mangulahon na so denggan diadopan ni angka dakdanak. Balga do kemungkinan nasida gabe mangihuthon i. Naeng ma holan na denggan i tapatuduhon di angka dakdanak.
Ndang holan tingki dakdanak, sahat tu na magodang pe ternyata hita jolma memiliki sifat meniru. Sebagai gulmitgulmit (mahluk) na jotjot meniru, sude na tahatahon, taulahon, ro sian na tabereng, dohot tabege. Misalna, adong sahalak karyawan baru na karejo secara disiplin. Alai dung dibereng ibana angka dongan sakarejona dohot atasanna hanya bermalas-malasan, besar kemungkinan ibana pe gabe dohot bermalas-malasan. Molo angka pemimpin korupsi, gabe angka bawahan pe dohot korupsi.
Alani, sebagai mahluk na jotjot meniru, diporluhon sada sitiruon na denggan di hita. Sitiruon i boi dapotta sian angka pangajari (guru/pendididk), uluan (pemimpin), dohot angka natuatua di tongatonga ni masyarakat. Sesuai tu Topik ni minggunta: Keteladanan, hita halak Kristen diarahon asa gabe sitiruon di hata nang pambahenan tu sude halak na humaliangta. Di bagasan Kamus Besar Bahasa Indonesia, hata teladan mempunyai arti sebagai sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (perbuatan, kelakuan, sifat, dsb).
Situasi ni Surat
Huria di Filipi i ma huria na parjolo sahali dipajongjong Apostel Paulus di Eropa, di tingki pardalanan marbarita na uli napaduahon di ibana (Ul. Ap. 16:12- du) . Huta Filipi terletak di Makedonia, sada provinsi di kerajaan Roma. Nang pe ingkon ditinggalhon ibana kota i ala ni penganiayaan na dialami ibana (1Tes. 2:2), alai setia do huria i tu ibana, tarida sian pangurupion ni nasida tu Apostel paulus dibagasan pardalananna marbarita nauli.
Sebagai patujolo, Paulus dibagasan surat Filipi pasahathon mauliate ni rohana tu huria i di sude pangurupion naung dijalo ibana. Dungi, dilehon ibana do sada dorongan tu nasida asa jongjong di bagasan hasadaon ni tondi jala rap marungkil, marsada ni roha mangkaporseai barita na uli. Ai nunga parjolo Paulus manaon parungkilon i, naeng i ma tiruon ni nasida di bagasan parungkilon nasida. Paulus naeng manogihon nasida bahwa halak Kristen dibagasan ngoluna ingkon tongtong dibagasan las niroha, hasadaon, dohot hatguhon laho mampartahanton haporseaonna tu Kristus.
Surat ni Apostel Paulus tu Huria Filipi on disurathon di tingki ibana berada di penjara, ra di huta Rom. Marsak situtu rohana ala sian kabar na sahat tu ibana, bahwa godang angka pangajari na masuk tu Huria i jala mangjarhon hal na boi mambaen lilu haporseaon ni nasida. Sitiruon na denggan naung dilehon ibana saleleng rap nasida, ndang boi dipatuduhon angka pangajari na ro i.
Tafsiran Teks
Di situasi ni nasida naung godang angka pangajari na lilu di tonga-tonga nasida, Paulus mangidohon asa tongtong nasida marningot di sude pangajarion naung nilehonna tu nasida, asa unang terpengaruh jala gabe mago sude na denggan naung diajarhonna. Mangadopi ragam ni pangajarion naro, naeng nasida manat mamillit pangajarion na sintong di nasida, na sesuai tu pangajarion ni Paulus.Songon na jotjot masa di huria na dipajongjong Paulus, dung lao ibana maka marroan ma angka pangajari Jahudi di tonga-tonga ni huria. Tujuanna laho mampengaruhi ruas i asa mangulahon adat Jahudi. Ditingki rap do pe Paulus dohot huria di Filipi, nunga sai dipaingot nasida taringot tu situasi i. Bahkan sian bagasan penjara, ndang lupa ibana paingothon i nang pe mardongan tangis ibana, alani arsak ni rohana. Angka pangajari na mamboan goar ni Tuhan i, sasintongna merupakan musuh ni Tuhan i. Di dok ibana do nasida “angka biang, angka pangula na jahat, parsunaton na torbang”, asa bereng nasida di si unang terpengaruh. Na diajarhon angka pangajar i, i ma marhatigoran sian patik jala na holan ”butuhanasida do dipardebata”.
Paulus marhite pangajarion dohot pambahenanna, merupakan sada tiruon di huria i. nadia ma i, angka sitiruon i? Di bagian awal bindu 3 on, sian ayat 1-16, bo i do idaonta i. (1) Huhalupahon na di pudingku, hueaki angka na di jolo. Tangkas do dipaboa ibana taringot tu ngoluna andorang so mananda Kristus. Didok ibana:”Garang do rohangku mangalele huria i, so hasurahan di hatigoran na sian patik. Alai naung paruntungan hian di ahu, harugian do i hujujur ala ni Kristus i” (Filipi 3:6-7). On ma sitiruon ni nasida, bahwa halak Kristen i ma halak na olo manundalhon sude hasalahan jala mardalan di dalan ni Debata. Halak Kristen naeng ma marhatigoran na sian Debata, na marajohan sian haporseaon bahwa Jesus Kristus naung hehe i do gabe ojahan ni haporseaonta. Haluaon na tajalo sian Debata, ndang alani usahanta, ndang alani mangulahon patik ni si Musa dohot sunat, alai holan alani asi ni roha ni Debata tu hita. (2) Na serep marroha songon Jesus, jala ndang na holan manrihon diri sandiri. Uhut tumatangis ibana manolsoli angka pangajari na masuk tu huria i, na mangajari huria i alai na berorientasi tu materi, jabatan. Di dok ibana:”Hamagoan do ujungnasida, butuhanasida do dipardebata, sihailahononna (3:19). Nunga godang ruas i jala angka parhalado na mengutamakan hal-hal materi dohot jabatan, na gabe margulut nasida disi gabe patubuhon angka perselisihan di tonga-tonga nasida (tajaha bindu 4). (3) Hasatiaonna tu Debata ditongatonga ni parungkilon. Di pamasuk tu hurungan (penjara), dpukkuli, di hinsaki, nunga merupakan kesulitan nasomal diadopi Paulus dipardalananna. Sian sada kota tu kota na asing, ancaman si songoni jotjot diadopi ibana. Saluhutna i ndang mambaen sumurut ibana sian ulaonna. Sikap si songoni di dapot ibana sian pangantuison bahwa haluaon di jolma ndang didapot di portibi on sian na mangulahon patik ni jolma. Hasiangan on di dok Paulus sebagai” bagas parlapelapeannami”, inganan na bersifat sementara. Dung sian tano on, nunga diparade di hita “inganan na sian Debata, bagas na so pinauli ni tangan, na mian saleleng- lelengna di banua ginjang i” (2 Korintus 5:1).
On ma angka sitiruon sian Paulus, na marasing sian angka pangajari na lilu i. Padahal sebagai pangajari, naeng ma gabe sitiruon tu sude halak na porsea marhite angka pangajarion, tarlumobi marhita pangalaho. Sian namangulahon patik ni Debata do hita dapotan pangomoan jala di ngolu dung sian portibi on do hita manjalo i. Ngolu dohot pardalanan ni Apostel i di namarbarita nauli tu bangso non-Jahudi, na secara konsisten maniop haporsaeonna jala na rela menderita alani i, i do na dipatuduhon Apostel i tu nasida asa gabe sitiruon di nasida.
Pokok-pokok Sijamitahonon
Keteladanan, sada hal naung maol dapotta di tonga-tonga ni ngolu ni bangsonta on. Angka pemimpin na talehon wewenang laho manguluhon hita, dang boi mangalehon sitiruon na denggan, asa dohot hita maniru i. Na jotjot ta ida saonari on i ma angka pemimpin na saling menyalahkan, marsidalian, na menghasut, dll. Hapistaran, bisuk, daohot pengalaman n i nasida, dipangke holan tu kepentinganna, ndang kepentingan publik. Sehingga, molo godang saonari on parbadaan masa di tonga ni masyarakat ta, ala songoni do hape sitiruon sian angka pemimpin.
Alani, hita halak Kristen, naeng ma boi gabe sitiruon di keluarga nang gereja dohot masyarakat, marhite:
1. Na olo hita manundalhon angka na hurang sian pangalahonta dohot panghataionta. Ingkon lam sadaronta do bahwa di jaman teknologi na maju on, ndang adong be nabuni. Akses informasi na luas, mambaen hata nang pambahenanta ndang holan tarbege di tetangganta, alai boi do nunga sahat tu luar kabupaten on. Molo na so denggan na taulahon/tahatahon, roa ma goarta jala ndang gabe sitiruon. Alai molo sebalikna, lam bagak ma barita taringot tu hita jala anggiat gabe sitiruon na denggan di jolma na asing. Songon di keluarga, hita sebagai ama/ina ingkon boi patuduhon sitiruon na denggan tu angka ianakonna. Dituntut kedewasaan sian hita laho manundalhon angka na salah i.
2. Hasatiaon tu Debata naeng tongtong tajaga nang pe gok parungkilon. Di bulan na salpu adong sada contoh nyata di hita taringot parungkilon na dialami angka donganta sahaporseaon di Bekasi. Nian, sian najolo pe hita halak Kristen nunga mengalami on, i ma penghambatan. Situasi on boi mempengaruhi ngolunta baik secara ekonomi dohot sosial, na gabe boi alang haporseaonta tu Debata. Sahalak na gabe sitiruon i ma halak na manahan ro di ujungna, na boi monang mangadopi angka kesulitan.
3. Jesus Kristus, i ma sitiruon na tutu di hita. Ibana mangolu di portibi on ndang holan tu kepentiongan na sandiri, alai laho memenuhi klepentingan natorop, i ma haluaon na pinarade ni Debata. Jesus mandok: “Ai sitiruon do hulehon tu hamu, asa dibahen hamu songon naung hubahen i tu hamu! (Johanes 13:15). Tutu situtu Jesus mamparrohaon jala mengupayahon kepentingan ni natorop. I ma sitiruon na ditinggalhon Jesus: “Ai tusi do hamu tarjou, ai dohot do Kristus manaon na porsuk humongkop hamu, tumadingkon tiruan di hamu, asa diihuthon hamu bogas ni patna” (1 Petrus 2:21).
Gabe sitiruon ma hamu!
1. Marhite na olo paubahaon pangalaho lam tu dengganna.
2. Marhite na satia tu Debata.
Ende.
1. 305:1-3
2. 18:5-6
3. 164:1-2
4. 102:3-4
5. 128:1---
6. 186:4-5
7. 417:1---
Ev. Filipi 3:17-21 Ep. I Raja-raja 2:1-4 S. Patik. Titus 2:7
Patujolo
Ibarat harotas bontar na kosong, na so adong do pe disurati manang gambar dibagasan na, songoni do boi tapatudos keadaan ni sahalak jolma na baru tubu di hasiangan on. Ndang adong diboto agia aha, tarlumobi ndang diboto membedakan na dengan dohot na so denggan. Na boi sibahenonna i ma meniru dohot mencontoh sude na diida jala dibereng sian angka na magodang (orang dewasa). Sude na dibahen angka orang dewasa, denggan manang so denggan, merupakan contoh tu ibana. Dianggap do i sebagai standar perilaku di ibana. Molo dibege omakna jotjot sai mamburai, maka dakdanak i pe gabe marsiajar mamburai. Molo dibereng ibana jotjot bapana mangurupi halak, maka anak akan suka menolong. Molo dibereng ibana abangna jotjot mangalo omak dohot bapana, maka ibana pe mangihut gabe pangalo. I do makana sai dipaingot hita angka halak dewasa asa unang mangulahon na so denggan diadopan ni angka dakdanak. Balga do kemungkinan nasida gabe mangihuthon i. Naeng ma holan na denggan i tapatuduhon di angka dakdanak.
Ndang holan tingki dakdanak, sahat tu na magodang pe ternyata hita jolma memiliki sifat meniru. Sebagai gulmitgulmit (mahluk) na jotjot meniru, sude na tahatahon, taulahon, ro sian na tabereng, dohot tabege. Misalna, adong sahalak karyawan baru na karejo secara disiplin. Alai dung dibereng ibana angka dongan sakarejona dohot atasanna hanya bermalas-malasan, besar kemungkinan ibana pe gabe dohot bermalas-malasan. Molo angka pemimpin korupsi, gabe angka bawahan pe dohot korupsi.
Alani, sebagai mahluk na jotjot meniru, diporluhon sada sitiruon na denggan di hita. Sitiruon i boi dapotta sian angka pangajari (guru/pendididk), uluan (pemimpin), dohot angka natuatua di tongatonga ni masyarakat. Sesuai tu Topik ni minggunta: Keteladanan, hita halak Kristen diarahon asa gabe sitiruon di hata nang pambahenan tu sude halak na humaliangta. Di bagasan Kamus Besar Bahasa Indonesia, hata teladan mempunyai arti sebagai sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (perbuatan, kelakuan, sifat, dsb).
Situasi ni Surat
Huria di Filipi i ma huria na parjolo sahali dipajongjong Apostel Paulus di Eropa, di tingki pardalanan marbarita na uli napaduahon di ibana (Ul. Ap. 16:12- du) . Huta Filipi terletak di Makedonia, sada provinsi di kerajaan Roma. Nang pe ingkon ditinggalhon ibana kota i ala ni penganiayaan na dialami ibana (1Tes. 2:2), alai setia do huria i tu ibana, tarida sian pangurupion ni nasida tu Apostel paulus dibagasan pardalananna marbarita nauli.
Sebagai patujolo, Paulus dibagasan surat Filipi pasahathon mauliate ni rohana tu huria i di sude pangurupion naung dijalo ibana. Dungi, dilehon ibana do sada dorongan tu nasida asa jongjong di bagasan hasadaon ni tondi jala rap marungkil, marsada ni roha mangkaporseai barita na uli. Ai nunga parjolo Paulus manaon parungkilon i, naeng i ma tiruon ni nasida di bagasan parungkilon nasida. Paulus naeng manogihon nasida bahwa halak Kristen dibagasan ngoluna ingkon tongtong dibagasan las niroha, hasadaon, dohot hatguhon laho mampartahanton haporseaonna tu Kristus.
Surat ni Apostel Paulus tu Huria Filipi on disurathon di tingki ibana berada di penjara, ra di huta Rom. Marsak situtu rohana ala sian kabar na sahat tu ibana, bahwa godang angka pangajari na masuk tu Huria i jala mangjarhon hal na boi mambaen lilu haporseaon ni nasida. Sitiruon na denggan naung dilehon ibana saleleng rap nasida, ndang boi dipatuduhon angka pangajari na ro i.
Tafsiran Teks
Di situasi ni nasida naung godang angka pangajari na lilu di tonga-tonga nasida, Paulus mangidohon asa tongtong nasida marningot di sude pangajarion naung nilehonna tu nasida, asa unang terpengaruh jala gabe mago sude na denggan naung diajarhonna. Mangadopi ragam ni pangajarion naro, naeng nasida manat mamillit pangajarion na sintong di nasida, na sesuai tu pangajarion ni Paulus.Songon na jotjot masa di huria na dipajongjong Paulus, dung lao ibana maka marroan ma angka pangajari Jahudi di tonga-tonga ni huria. Tujuanna laho mampengaruhi ruas i asa mangulahon adat Jahudi. Ditingki rap do pe Paulus dohot huria di Filipi, nunga sai dipaingot nasida taringot tu situasi i. Bahkan sian bagasan penjara, ndang lupa ibana paingothon i nang pe mardongan tangis ibana, alani arsak ni rohana. Angka pangajari na mamboan goar ni Tuhan i, sasintongna merupakan musuh ni Tuhan i. Di dok ibana do nasida “angka biang, angka pangula na jahat, parsunaton na torbang”, asa bereng nasida di si unang terpengaruh. Na diajarhon angka pangajar i, i ma marhatigoran sian patik jala na holan ”butuhanasida do dipardebata”.
Paulus marhite pangajarion dohot pambahenanna, merupakan sada tiruon di huria i. nadia ma i, angka sitiruon i? Di bagian awal bindu 3 on, sian ayat 1-16, bo i do idaonta i. (1) Huhalupahon na di pudingku, hueaki angka na di jolo. Tangkas do dipaboa ibana taringot tu ngoluna andorang so mananda Kristus. Didok ibana:”Garang do rohangku mangalele huria i, so hasurahan di hatigoran na sian patik. Alai naung paruntungan hian di ahu, harugian do i hujujur ala ni Kristus i” (Filipi 3:6-7). On ma sitiruon ni nasida, bahwa halak Kristen i ma halak na olo manundalhon sude hasalahan jala mardalan di dalan ni Debata. Halak Kristen naeng ma marhatigoran na sian Debata, na marajohan sian haporseaon bahwa Jesus Kristus naung hehe i do gabe ojahan ni haporseaonta. Haluaon na tajalo sian Debata, ndang alani usahanta, ndang alani mangulahon patik ni si Musa dohot sunat, alai holan alani asi ni roha ni Debata tu hita. (2) Na serep marroha songon Jesus, jala ndang na holan manrihon diri sandiri. Uhut tumatangis ibana manolsoli angka pangajari na masuk tu huria i, na mangajari huria i alai na berorientasi tu materi, jabatan. Di dok ibana:”Hamagoan do ujungnasida, butuhanasida do dipardebata, sihailahononna (3:19). Nunga godang ruas i jala angka parhalado na mengutamakan hal-hal materi dohot jabatan, na gabe margulut nasida disi gabe patubuhon angka perselisihan di tonga-tonga nasida (tajaha bindu 4). (3) Hasatiaonna tu Debata ditongatonga ni parungkilon. Di pamasuk tu hurungan (penjara), dpukkuli, di hinsaki, nunga merupakan kesulitan nasomal diadopi Paulus dipardalananna. Sian sada kota tu kota na asing, ancaman si songoni jotjot diadopi ibana. Saluhutna i ndang mambaen sumurut ibana sian ulaonna. Sikap si songoni di dapot ibana sian pangantuison bahwa haluaon di jolma ndang didapot di portibi on sian na mangulahon patik ni jolma. Hasiangan on di dok Paulus sebagai” bagas parlapelapeannami”, inganan na bersifat sementara. Dung sian tano on, nunga diparade di hita “inganan na sian Debata, bagas na so pinauli ni tangan, na mian saleleng- lelengna di banua ginjang i” (2 Korintus 5:1).
On ma angka sitiruon sian Paulus, na marasing sian angka pangajari na lilu i. Padahal sebagai pangajari, naeng ma gabe sitiruon tu sude halak na porsea marhite angka pangajarion, tarlumobi marhita pangalaho. Sian namangulahon patik ni Debata do hita dapotan pangomoan jala di ngolu dung sian portibi on do hita manjalo i. Ngolu dohot pardalanan ni Apostel i di namarbarita nauli tu bangso non-Jahudi, na secara konsisten maniop haporsaeonna jala na rela menderita alani i, i do na dipatuduhon Apostel i tu nasida asa gabe sitiruon di nasida.
Pokok-pokok Sijamitahonon
Keteladanan, sada hal naung maol dapotta di tonga-tonga ni ngolu ni bangsonta on. Angka pemimpin na talehon wewenang laho manguluhon hita, dang boi mangalehon sitiruon na denggan, asa dohot hita maniru i. Na jotjot ta ida saonari on i ma angka pemimpin na saling menyalahkan, marsidalian, na menghasut, dll. Hapistaran, bisuk, daohot pengalaman n i nasida, dipangke holan tu kepentinganna, ndang kepentingan publik. Sehingga, molo godang saonari on parbadaan masa di tonga ni masyarakat ta, ala songoni do hape sitiruon sian angka pemimpin.
Alani, hita halak Kristen, naeng ma boi gabe sitiruon di keluarga nang gereja dohot masyarakat, marhite:
1. Na olo hita manundalhon angka na hurang sian pangalahonta dohot panghataionta. Ingkon lam sadaronta do bahwa di jaman teknologi na maju on, ndang adong be nabuni. Akses informasi na luas, mambaen hata nang pambahenanta ndang holan tarbege di tetangganta, alai boi do nunga sahat tu luar kabupaten on. Molo na so denggan na taulahon/tahatahon, roa ma goarta jala ndang gabe sitiruon. Alai molo sebalikna, lam bagak ma barita taringot tu hita jala anggiat gabe sitiruon na denggan di jolma na asing. Songon di keluarga, hita sebagai ama/ina ingkon boi patuduhon sitiruon na denggan tu angka ianakonna. Dituntut kedewasaan sian hita laho manundalhon angka na salah i.
2. Hasatiaon tu Debata naeng tongtong tajaga nang pe gok parungkilon. Di bulan na salpu adong sada contoh nyata di hita taringot parungkilon na dialami angka donganta sahaporseaon di Bekasi. Nian, sian najolo pe hita halak Kristen nunga mengalami on, i ma penghambatan. Situasi on boi mempengaruhi ngolunta baik secara ekonomi dohot sosial, na gabe boi alang haporseaonta tu Debata. Sahalak na gabe sitiruon i ma halak na manahan ro di ujungna, na boi monang mangadopi angka kesulitan.
3. Jesus Kristus, i ma sitiruon na tutu di hita. Ibana mangolu di portibi on ndang holan tu kepentiongan na sandiri, alai laho memenuhi klepentingan natorop, i ma haluaon na pinarade ni Debata. Jesus mandok: “Ai sitiruon do hulehon tu hamu, asa dibahen hamu songon naung hubahen i tu hamu! (Johanes 13:15). Tutu situtu Jesus mamparrohaon jala mengupayahon kepentingan ni natorop. I ma sitiruon na ditinggalhon Jesus: “Ai tusi do hamu tarjou, ai dohot do Kristus manaon na porsuk humongkop hamu, tumadingkon tiruan di hamu, asa diihuthon hamu bogas ni patna” (1 Petrus 2:21).
Gabe sitiruon ma hamu!
1. Marhite na olo paubahaon pangalaho lam tu dengganna.
2. Marhite na satia tu Debata.
Ende.
1. 305:1-3
2. 18:5-6
3. 164:1-2
4. 102:3-4
5. 128:1---
6. 186:4-5
7. 417:1---
Langganan:
Postingan (Atom)